INDONESIA RAYA

Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya

BUKUKU

seribu buku................................

catur

bermain catur bersama-sama sungguh senangnya

ini buku

biar pintar banyak-banyaklah membaca buku

iklan buku

yuk mari kitabeli buku biar banyak referensi....

Rabu, 13 Juni 2012

“Pemberdayaan Masyarakat Petani dalam Meningkatkan Hasil Panen Melalui Program Gapoktan (gabungan kelompok tani) di kecamatan Moyudan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam era yang semakin berkembang ini, salah satu tuntutan bagi sebuah negara berkembang adalah pembangunan nasional. Pembangunan nasional  akan terlaksana dengan baik apabila ada koordinasi dari segenap masyarakatnya. Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia atau individu seutuhnya dan masyarakat selutuhnya. 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2007 jumlah penduduk miskin tercatat 37,2 juta jiwa. Sekitar 63,4% dari jumlah tersebut berada di perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan 80% berada pada skala usaha mikro yang memiliki luas lahan lebih kecil dari 0,3 hektar. Kemiskinan di perdesaan merupakan masalah pokok nasional yang penanggulangannya tidak dapat ditunda dan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. 
UU no. 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial pasal 3 bab II asas dan tujuan berbunyi:
“Penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan : (1) meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup; (2) memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian; (3) meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah dan menangani masalah kesejahteraan sosial; (4) meningkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggung jawab sosial dunia usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan; (5) meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan; dan (6) meningkatkan kualitas manajemen penyelenggaraan kesejahteraan sosial”.

Sunyoto Usman (2008:33-40) di dalam masyarakat, dapat dikemukakan dua macam keadaan : (1) terdapat kemiskinan sekaligus kesenjangan, atau (2) tidak terdapat kemiskinan tapi boleh jadi masih ada kesenjangan. Upaya penanggulangan kemiskinan sangat kompleks dan rumit, dan upaya menanggulangi kemiskinan sekaligus kesenjangan jauh lebih kompleks dan lebih rumit. Secara teorotis, faktor penting lain yang ditengarai membuat desa menjadi tidak berdaya adalah produktivitas yang rendah dan sumber daya manusia yang lemah. Perbandingan antara hasil produksi dan jumlah penduduk menjadi tidak seimbang.
Oleh karena itu pembangunan ekonomi nasional berbasis pertanian dan pedesaan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengurangan penduduk miskin dan penyelenggaraan kesejahteraan sosial juga dapat berjalan seperti apa yang sudah dicita-citakan.
Permasalahan mendasar yang dihadapi petani adalah kurangnya akses kepada sumber permodalan, pasar dan teknologi, serta organisasi tani yang masih lemah. Kajian keadaan pedesaan secara partisipatif adalah salah satu tahap dalam upaya meningkatkan kemandirian, hasil panen dan kesejahteraan masyarakat dalam hidupnya. Kajian keadaan pedesaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasi, potensi dan masalahnya sendiri. Dalam kajian keadaan pedesaan secara partisipatif melalui Pemberdayaan Masyarakat, masyarakat dapat memanfaatkan informasi dan hasil kajian yang dilakukan bersama oleh masyarakat bersama tim fasilitator, untuk mengembangkan rencana kerja masyarakat petani agar lebih maju dan mandiri. 
Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan top-down yang sering kali dipakai oleh lembaga-lembaga yang mengumpulkan informasi dari masyarakat melalui Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat untuk kepentingan kelancaran program mereka. Dalam program semacam ini masyarakat hanya diikutkan tanpa diberikan pilihan. Hasil dari kajian keadaan pedesaan secara partisipatif berupa gambaran tentang masalah yang dihadapi masyarakat, potensi serta peluang pengembangan. Hasil ini sebagai dasar untuk tahapan berikutnya dalam proses pemberdayaan masyarakat. 
Ukuran keberhasilannya adalah kemajuan fisik atau luasan tanaman, yang belum menyentuh pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) petani dan kelembagaan, belum memanfaatkan kearifan tradisional sebagai modal sosial (social capital), belum mengakomodasi tata nilai dan kelembagaan informal masyarakat lokal sebagai pondasi kelembagaan formal pengelolaan lahan, serta belum diadaptasikan dengan keragaman karakteristik bio-fisik lokasi, sosial dan budaya masyarakat lokal. Sehingga partisipasi masyarakat dalam pelestarian lahan menjadi sangat minim dan terabaikan. 
Akibatnya tingkat keberhasilan pembangunan usaha budidaya tanaman sangat rendah dan sekaligus masyarakat tetap miskin atau malah menjadi tambah miskin. Efek negatif berikutnya kemiskinan tersebut telah memicu semakin maraknya penebangan liar, perambahan kawasan, dan lain-lain yang semakin mengakibatkan parahnya kerusakan lahan. Sementara itu keberadaan dan ketergantungan masyarakat lokal terhadap sumber daya alam sangat mempengaruhi keberhasilan pembangunan tanaman pertanian atau pengelolaan lahan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Dengan kata lain sasaran pengelolaan lahan secara maksimal tidak dapat dicapai tanpa memperhatikan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. 
Dari hal di atas, masyarakat petani di kawasan kecamatan Moyudan yang tergabung dalam program Gapoktan (gabungan kelompok tani) merupakan masyarakat yang perlu diberdayakan. Diharapkan melalui program Gapoktan ini, masyarakat petani dapat lebih berdaya dan dalam segi hasil panen maupun finansial serta kesejahteraan hidupnya dapat meningkat.
Dengan permasalahan yang telah diuraikan di atas maka peniliti mengambil penelitian “pemberdayaan masyarakat petani dalam meningkatkan hasil panen melelui program Gapoktan (gabungan kelompok tani) di kecamatan Moyudan.

B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut 
1. Banyaknya petani yang tingkat ekonominya masih rendah
2. Rendahnya hasil panen petani menyebabkan menurunnya tingkat ekonomi.
3. Kurangnya pengetahuan petani tentang cara pengolahan sawah yang tepat menyebabkan rendahnya hasil panen
4. Kurangnya inovasi petani dalam upaya meningkatkan hasil panen.
5. Potensi-potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam belum dieksplor secara maksimal atau belum diberdayakan.

C. Pembatasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang diuraikan di atas, tidak seluruhnya dikaji dalam penelitian ini. Mengingat adanya keterbatasan waktu, kemampuan dan dana. Agar penelitian ini lebih mendalam, maka penelitian ini dibatasi pada pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat petani dalam usaha meningkatkan hasil panen melalui program gabungan kelompok tani di kecamatan Moyudan.

D. Rumusan masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah peneliti kemukakan di atas, maka dapat dirumuskan secara operasional permasalahan sebagai berikut
1. Bagaimana pelaksanaan pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?
2. Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan program gapoktan di kecamatan moyudan?
3. Bagaimana keberhasilan pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Mengetahui pelaksanaan pemberdayaan masyarakat petani dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan di kecamatan moyudan
2. Mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan program gapoktan di kecamatan moyudan
3. Mengetahui tingkat keberhasilan program pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan

F. Manfaat penelitian
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini dapat menambah khasanah di bidang Pendidikan Luar Sekolah pada konsep pemberdayaan masyarakat 
2. Manfaat praktis
Sebagai bahan kajian untuk penelitian selanjutnya serta sebagai penambah pengalaman dan wawasan khususnya bagi penulis, umumnya bagi masyarakat tentang pemberdayaan masyarakat petani dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian pustaka
1. Tinjauan pemberdayaan masyarakat petani
a. Pengertian pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri (wikipedia-indonesia).
Pemberdayaan merupakan penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling) (Ambar T. Sulistyani, 2004:79)
Priyono (1996) memberikan makna pemberdayaan masyarakat sebagai upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baikdalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional maupun dalam bidang politik, ekonomi, psikologi dan lain-lain. Mem-berdayakan masyarakat mengandung mak-na mengembangkan, memandirikan, men-swadayakan dan memperkuat posisi tawar-menawar masyarakat lapisan bawah ter-hadap kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan.
Menurut definisinya, oleh Mas’oed (1990), pemberdayaan diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya (empowerment) atau kekuatan (strengthening) kepada masya-rakat. Sehubungan dengan pengertian ini, Sumodiningrat (1997) mengartikan keberdayaan masyarakat sebagai kemam-puan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan. 
Masyarakat dengan keberdayaan yang tinggi, adalah masya-rakat yang sebagian besar anggotanya sehat fisik dan mental, terdidik dan kuat, dan memiliki nilai-nilai intrinsik yang juga menjadi sumber keberdayaan, seperti sifat-sifat kekeluargaan, kegotong-royongan, dan (khusus bagi bangsa Indonesia) adalah keragaman atau kebhinekaan.
Keberdayaan masyarakat, adalah unsur-unsur yang memungkinkan masyarakat mampu bertahan (survive) dan (dalam pengertian yang dinamis) mampu mengembangkan diri untuk mencapai tujuan-tujuannya. Karena itu, memberdaya-kan masyarakat merupakan upaya untuk (terus menerus) me-ningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat “bawah” yang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. 
Dengan kata lain, memberdayakan masyarakat adalah mening-katkan kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyara-kat. Sejalan dengan itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya peningkatan kemampuan masyarakat (miskin) untuk berpartisipasi, bernegosiasi, mempengaruhi dan mengendali-kan kelembagaan masyarakatnya secara bertanggung-gugat (accountable) demi perbaikan kehidupannya
Empowerment atau pemberdayaan secara singkat dapat diartikan sebagai upaya untuk memberiikan kesempatan dan kemampuan kepada kelompok masyarakat (miskin) untuk mampu dan berani bersuara (voice) serta kemampuan dan keberanian untuk memilih (choice). 
Karena itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai proses terencana guna meningkatkan skala/upgrade utilitas dari obyek yang diberdayakan. Dasar pemikiran suatu obyek atau target group perlu diberdayakan karena obyek tersebut mem-punyai keterbatasan, ketidakberdayaan, keterbelakangan dan kebodohan dari berbagai aspek. Oleh karenanya guna meng-upayakan kesetaraan serta untuk mengurangi kesenjangan diperlukan upaya merevitalisasi untuk mengoptimalkan utilitas melalui penambahan nilai. Penambahan nilai ini dapat mencakup pada ruang bidang aspek sosial, ekonomi, kese-hatan, politik dan budaya.
Pemberdayaan dapat dimaknai sebagai proses tumbuhnya kekuasaan serta kemampuan baik individu maupun kelompok masyarakat yang masih miskin, terpinggirkan dan belum berdaya. Melalui proses pemberdayaan diharapkan kelompok masyarakat masyarakat bawah dapat terangkat menjadi kelompok manusia yang menengah dan atas. Hal tersebut dapat terjadi bila mereka diberikan kesempatan serta fasilitas dan bantuan dari pihak yang terkait. Kelompok masyarakat miskin di pedesaan sulit untuk melakukan proses pemberdayaan tanpa adanya bantuan dan fasilitas.

b. Tujuan pemberdayaan masyarakat
Untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Pemberdayaan masyarakat hendaknya mengarah pada pembentukan kognitif masyarakat yang lebih baik. Kondisi kognitif pada hakikatnya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seorang atau masyarakat dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Kondisi konatif merupakan sikap perilaku masyarakat yang terbentuk yang diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai-nilai pembangunan dan pemberdayaan. Kondisi afektif adalah merupakan sense yang dimiliki oleh masyarakat yang diharapkan dapat diintervensi  untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku. Kemampuan psikomotorik merupakan kecakapan keterampilan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya pendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pembangunan. Terjadinya keberdayaan pada empat aspek tersebut (kognitif, konatif, afektif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada tercapainya kemandirian masyarakat yang dicita-citakan.(Ambar T. Sulistyani, 2004:80).
Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk membuat masyarakat menjadi mandiri, dalam arti memiliki potensi untuk mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi, dan sanggup memenuhi kebutuhannya dengan tidak menggantungkan hidup mereka pada bantuan pihak luar, baik pemerintah maupun organisasi-organisasi non-pemerintah.

c. Unsur-unsur Pemberdayaan Masyarakat
Upaya pemberdayaan masyarakat perlu memperhati-kan sedikitnya 4 (empat) unsur pokok , yaitu:
1) Aksesibilitas informasi, karena informasi merupakan kekuasaan baru kaitannya dengan peluang, layanan, penegakan hukum, efektivitas negosiasi, dan akuntabilitas.
2) Keterlibatan atau partisipasi, yang menyangkut siapa yang dilibatkan dan bagaimana mereka terlibat dalam kese-luruhan proses pembangunan. 
3) Akuntabilitas, kaitannya dengan pertanggungjawaban publik atas segala kegiatan yang dilakukan dengan meng-atas-namakan rakyat.
4) Kapasitas organisasi lokal, kaitannya dengan kemampuan bekerja-sama, mengorganisir warga masyarakat, serta memobilisasi sumberdaya untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

d. Syarat Tercapainya Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan masya-rakat terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan, yaitu :
1) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang. Titik-tolaknya adalah, pengenalan bahwa setiap manusia dan masya-rakatnya memiliki potensi (daya) yang dapat dikembang-kan.
2) Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memberikan motivasi, dan membang-kitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya, serta berupaya untuk mengembangkannya.
3) Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering).

2. Tinjauan hasil panen
a. Pengertian hasil panen
Dalam ekonomi pertanian, hasil usaha tani, hasil panen, atau sangat sering disingkat hasil saja, adalah besaran yang menggambarkan banyaknya produk panen usaha tani yang diperoleh dalam satu luasan lahan dalam satu siklus produksi. Satuan hasil biasanya adalah bobot (massa) per satuan luas, seperti kg per hektare (= kg/ha atau kg.ha-1), kuintal (desiton, dt) per hektare, dan (metrik-)ton per hektare.
Wujud fisik hasil berbeda-beda tergantung komoditi. Untuk tanaman penghasil biji-bijian (serealia dan legum) hasil yang dihitung adalah bulir atau biji yang telah dikeringkan. Pada berbagai tanaman sayuran hasil yang dihitung adalah buah atau daun atau seluruh bagian di atas permukaan tanah. Sisa panen di bagian atas permukaan tanah yang tidak dihitung sebagai hasil usaha tani diberi istilah brangkasan.( Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

b. Upaya peningkatkan hasil panen
Strategi berikut dapat diadopsi untuk meningkatkan produktivitas padi di berbagai negara:
Penekanan dapat diberikan pada pendekatan sistem tanam daripada pendekatan pengembangan tanaman tunggal ..
Perbanyakan tanaman teknologi spesifik lokasi produksi di berbagai agro-klimatik zona.
Penggantian potensi rendah / hama varietas lama rentan dengan varietas unggul baru dengan potensi hasil menjanjikan.
Untuk mendorong budidaya padi hibrida melalui demonstrasi dan biji membuat tersedia bagi petani.
Memotivasi para petani untuk menyediakan irigasi hidup hemat untuk tanaman sedapat mungkin selama musim kering panjang.
Meningkatkan kesuburan tanah.
Penekanan pada penggunaan nutrisi yang seimbang tanaman bersama dengan mempopulerkan sistem manajemen pabrik terintegrasi.
Penggunaan bio-pupuk.
Mempopulerkan menabur garis di daerah padi gogo melalui pembentukan cocok penyemaian perangkat dari tingkat yang diinginkan dari populasi tanaman, mudah dalam pengendalian gulma dan aplikasi teknik manajemen lainnya.
Mendorong penggunaan mesin serta lembu ditarik dan menyerahkan alat dioperasikan.
Pengendalian yang efektif terhadap hama dan penyakit dengan menekankan kebutuhan aplikasi berbasis pestisida.
Lebih menekankan pada penerapan non-moneter masukan seperti menabur tepat waktu, menjaga populasi tanaman optimal, irigasi tepat waktu, efisiensi penggunaan pupuk, langkah-langkah perlindungan tanaman dan pemanenan tepat waktu panen dll

3. Tinjauan gapoktan
c. Petani adalah perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran dan jasa penunjang.
Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan petani/peternak yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

b. Pengertian gapoktan
Gapoktan adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerjasama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha (Gapoktan sesuai Permentan No. 273 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani).

c. Tujuan gapoktan
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM melalui pendidikan pelatihan dan study banding sesuai kemampuan keuangan Gapoktan
Meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara keseluruhan tanpa kecuali yang terlibat dalam kepengurusan maupun hanya sebagai anggota, secara materiil maupun non material sesuai dengan kontribusi/andil/masukan yang diberikan kepada pengembangan Organisasi Gapoktan
Menyelenggarakan dan mengembangkan usaha dibidang pertanian dan jasa yang berbasis pada bidang pertanian.
Dalam membangun kerjasama dengan berbagai pihak, hams diketahui dan disepakati oleh rapat angota, dengan perencanaan dan analisa yang jelas dan harus berpedoman Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

d. Prinsip-Prinsip  Organisasi Petani
Dibentuk untuk mempermudah anggota-anggotanya mencapai sebagian apa yang dibutuhkan dan/atau diinginkan, Dengan kesadaran semacam itu setiap anggota menginginkan dan akan berusaha agar kelompoknya dapat benar-benar efektif dalam menjalankan fungsinya, dengan meningkatkan mutu interaksi/kerjasamanya dalam memanfaatkan segala potensi yang ada pada anggota dan lingkungannya untuk mencapai tujuan kelompok.

e. Manfaat Gapoktan
Memudahkan para penyuluh pertanian melakukan pembinaan dalam memfasilitasi para  petani dalam mengembangkan usahanya.
Memudahkan para pengambil kebijakan melaksanakan program-program yang akan dikembangka
Memudahkan penyuluh pertanian melakukan pemberdayaan terhadap petani.

B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian tentang pemberdayaan masyarakat ini, sebelumnya telah dilakukan beberapa penelitian terkait hal tersebut, diantaranya adalah:
1. Penelitian milik Siti Jariyah (2011) yang berjudul “pemberdayaan masyarakat dan mobilitas sosial di padukuhan pugeran, maguwoharjo, depok, sleman, yogyakarta” menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pemberdayaan masyarakat dan mobilitas sosial adalah adanya kegiatan pemberdayaan secara tidak langsung berpengaruh terdapat peningkatan status dan peran eseorang atau masyarakat dalam kehidupan. Berbagai macam fasilitas maupun saluran yang ada di masyarakat dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

2. Hasil penelitian milik Oktarina Dwi Handayani (2010) yang berjudul “pemberdayaan perempuan melalui program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri perdesaan (PNPM MD) dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di desa pesalakan, kecamatan bandar, kabupaten batang” adalah konsep pembangunan pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua teknik, yaitu : partisipasi masyarakat dan pembangunan masyarakat. Kedua teknik ini dapat diartikan proses pemberdayaan merupakan pembangunan yang bersumber dari, oleh dan untuk masyarakat.sedangkan partisipasi masyarakat diartikan sebagai partisipasi dari masyarakat sebagai pemanfaat program. Partisipasi tersebut tidak hanya pada pelaksanaan program, tapi dimulai dari tahap penggalian gagasan, tahap perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai pada tahapan pelestarian kegiatan.


3. Penelitian milik Kristinah Prasetia Ningsih (2010) dengan judul “implementasi pemberdayaan keluarga melalui pendidikan anak usia dini pada pos pemberdayaan keluarga di dusun saman desa bangunharjo kecamatan sewon kabupaten bantul” disimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat desa merupakan program pembangunan yang perlu menghiraukan dan memperhitungkan pola kehidupan yang sedang berlangsung di masyarakat, kondisi ini harus diberi nilai dan jangan sekali-kali diubah dengan cara perombakan. Kondisi masyarakat setempat perlu dihargai yaitu diberi apresiasi, penghargaan dan pemberian nilai pada kondisi kehidupan masyarakat tersebut adalah salah satu cara untuk suksesnya pengembangan masyarakat desa sebagaimana yang diharapkan.

C. Kerangka berpikir
Dalam era sekarang ini banyak sekali masalah-masalah sosial yang timbul. Dari banyaknya masalah, paling sering kita dengar ialah masalah sosial ekonomi. Masyarakat dalam kalangan menengah ke bawah-lah yang sering menemui masalah ini. Dikatakan seperti karena masyarakat dalam kalangan menengah ke bawah belum cukup berdaya.
Untuk menjawab permasalahan di atas, dicetuskannya program pemberdayaan masyarakat. Masyarakat yang perlu diberdayakan sangatlah beragam profesinya mulai dari pemuda sampai pada mereka yang sudah usia lanjut. Dalam hal ini, pemberdayaan yang diprogramkan ialah program pemberdayaan bagi mereka masyarakat petani. Masyarakat petani di kawasan pinggiran atau desa masih belum berdaya. Tidak sedikit dari mereka yang masih belum sejahtera. 
Dengan adanya kasus tersebut, pemerintah merespon tuntutan petani dengan menggulirkan program gapoktan (gabungan kelompok tani) yang mana dengan adanya program tersebut masyarakat petani menjadi lebih berdaya, mandiri serta dapat meningkatkan hasil panen dan kemudian mencapai tujuan akhir yang dicita-citakan yaitu meningkatnya kesejahteraan.
Timbul masalah-masalah soaial pada petani 


Program pemberdayaan masyarakat 

   
  Masyarakat petani


program Gapoktan (gabungan kelompok tani)


Meningkatkan hasil penen


Meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan

D. Pertanyan penelitian
Sebagai acuan dalam melakukan penelitian ini, maka peneliti membuat rumusan pertanyaan umum yang nantinya akan mengisi pembahasan dalam penelitian, yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan Moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?
a. Bagaimana rekruitmen anggota program pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan Moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?
b. Apa saja usaha yang dilakukan anggota program pemberdayaan masyarakat petani dalam upaya meningkatkan hasil panen?
c. Bagaimana program pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan Moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?
2. Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?
3. Bagaimana tingkat keberhasilan program pemberdayaan masyarakat petani di kecamatan Moyudan dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan?
a. Dilihat dari ketercapaian tujuan dan tanggapan dari petani anggota gapoktan dalam upaya meningkatkan hasil panen.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang ilmiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif menekankan makna (Sugiyono, 2011:15).
(Suharsimi A, 1998:209) mendefinisikan metode kualitatif yaitu pendekatan dengan cara memandang objek penelitian sebagai suatu sistem, artinya objek kajian dilihat dari satuan yang terdiri dari unsur yang saling terkait dan mendiskripsikan fenomena-fenomena yang ada. 
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena peneliti bermaksud mendeskripsikan, menguraikan dan menggambarkan pemberdayaan masyarakat petani dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan di kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta.

B. Setting dan Waktu Penelitian
1. Setting Penelitian
Setting penelitian yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah di pemberdayaan masyarakat petani dalam upaya meningkatkan hasil panen melalui program gapoktan di kecamatan Moyudan Sleman Yogyakarta dengan alasan sebagai berikut :
a. Gapoktan merupakan suatu program dari pemerintah yang ada di kecamatan Moyudan sebagai wadah pembinaan dan mengembangkan potensi masyarakat petani dalam meningkatkan hasil panen serta dapat hidup lebih mandiri dan mampu untuk meningkatkan kesejahteraan.
b. Mudah dijangkau peneliti sehingga memungkinkan lancarnya proses penelitian.
c. Keterbukaan dari pihak Gapoktan dan masyarakat petani sehingga memungkinkan lancarnya dalam memperoleh informasi atau data yang berkaitan dengan penelitian.

C. Subyek Penelitian
Suharsimi A (1990:119) menyebutkan bahwa subyek penelitian merupakan sesuatu yang kedudukannya sentral karena pada subyek penelitian itulah data tentang variabel yang diteliti berada dan diamati oleh peneliti. Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperolah. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi dalam mengumpulkan data, maka sumber data adalah kata-kata atau tindakan orang yang diwawancarai, sumber data tertulis dan foto.
Subyek sasaran penelitian ini adalah pengelola, tutor dan petani yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat petani dalam upaya meningkatkan hasil panen mmelalui program gapoktan di kecamatan Moyudan. Pemilihan subyek penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan subyek penelitian yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian. Pertimbangan lain dalam pemilihan subyek adalah subyek memiliki waktu apabila peneliti membutuhkan informasi untuk pengumpulan data dan dapat menjawab berbagai pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.

D. Sumber dan Metode Pengumpulan Data
1. Sumber data
Dalam penelitian ini yang dijadikan sumber data adalah :
a. Pihak internal gapoktan kecamatan Moyudan (pengelola, tutor dan petani yang menjadi anggota).
b. Pihak eksternal gapoktan kecamatan Moyudan (masyarakat dan lingkungan sekitar).
c. Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat oetani dalam upaya meningkatkan hasil panen memalui program gapoktan.

2. Metode pengumpulan data
Metode pengumplan data dalam penelitian ini ada beberapa cara agar data yang diperoleh merupakan data yang sahih atau valid, yang merupakan gambaran yang sebenarnya dari kondidi pemberdayaan masyarakat oetani dalam upaya meningkatkan hasil panen memalui program gapoktan di kecamatan Moyudan. Metode yang digunakan meliputi : pengamatan, wawancara, dan dokumentasi.
a. Pengamatan (observasi) 
pengamatan dilakukan sejak awal penelitian dengan mengamati keadaan fisik lingkungan maupun diluar lingkungan itu sendiri.
b. Wawancara
dalam wawancara, peneliti menggali sebanyak mungkin data yang terkait dengan masalah subyek. Pada penelitian ini akan dilakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dalam pemberdayaan masyarakat petani melalui program gapoktan (gabungan kelompok tani) di kecamatan Moyudan.
c.Dokumentasi
Metode dokumentasi ini merupakan metode bantu dalam upaya memperoleh data. Kejadian-kejadian atau peristiwa tertentu yang dapat dijadikan atau dipakai untuk menjelaskan kondisi didokumentasikan oleh peneliti.

E. Instrumen Pengumpulan Data
1. Pengertian instrumen pengumpulan data
Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kaitannya dalam mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan diperrmudah olehnya (Suharsimi A, 2003:134).
2. Instrumen yang digunakan
Instrumen untama yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman dokumentasi terstruktur yang dibuat sendiri oleh peneliti dibantu dosen pembimbing.

F. Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu data utama dan data pendukung. Data utama diperoleh melalui subjek penelitian, yaitu orang-orang yang terlibat langsung dalam kegiatan sebagai fokus penelitian. Sedangkan data pendukung bersumber dari dokumen-dokumen berupa catatan, rekaman, gambar, atau foto serta bahan-bahan lain yang dapat mendukung penelitian ini.
Adapun langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:
1. Reduksi data, dengan merangkum, memilih hal-hal pokok, disusun lebih sistematis, sehingga data dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti dalam mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan.

2. Penyajian data, agar dapat melihat gambaran keseluruhan data atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Dengan demikian peneliti dapat menguasai data lebih mudah kebenarannya dengan cara memperolah data itu dari sumber data lain, misalnya dari pihek kedua, ketiga, dan seterusnya dengan menggunakan metode yang berbeda-beda.

Trianggulasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang berbeda, misalnya dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan adany trianggukasi ini tidak sekedar menilai kebenaran data, akan tetapi juga dapat untuk menyelidiki validitas tafsiran penulis mengenai data tersebut, maka dengan data yang ada akan memberikan sifat yang reflektif dan pada akhirnya dengan trianggulasi ini akan memberikan kemungkinan bahwa kekurangan informasi yang pertama dapat menambah kelengkapan dari data yang sebelumnya.
Tujuan akhir trianggulasi ini adalah membandingkan informasi tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak agar ada jaminan tentang tingkat kepercayaan data. Cara ini juga dapat mencegah dari anggapan maupun bahaya subyektifitas.
PEDOMAN OBSERVASI

Hal Deskripsi
1.Lokasi dan Keadaan Penelitian
a. Lokasi dan Alamat
b. Status Bangunan
c. Kondisi Bangunan
d. Fasilitas
2. Visi dan Misi Program
3. Tujuan Program
4. Struktur Kepengurusan Gapoktan
5. Keadaan Pengurus Program
6. Tutor/pelatih
7. Data Anggota Gapoktan
8. Pendanaan
9. Kegiatan program Gapoktan 
a. Kegiatan
b. Manfaat
c. Hasil



Pedoman Wawancara

I. Identitas Diri
1. Nama : (Laki-laki/Perempuan)
2. Jabatan :
3. Usia :
4. Agama :
5. Pekerjaan :
6. Alamat :
7. Pendidikan terakhir :

II. Identitas Diri Lembaga
1. Kapan Gapoktan kecamatan Moyudan berdiri?
2. Bagaimana sejarah berdirinya Gapoktan kecamatan Moyudan?
3. Apakah tujuan berdirinya Gapoktan kecamatan Moyudan?
4. Apakah visi dan misi dari Gapoktan kecamatan Moyudan?
5. Berapa jumlah tenaga pengelola Gapoktan kecamatan Moyudan? 
6. Apakah jumlah tenaga tersebut sudah mencukupi untuk melaksanakan program-program yang dimiliki Gapoktan kecamatan Moyudan?
7. Adakah persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi pengelola Gapoktan kecamatan Moyudan?
8. Bagaimana cara rekruitmen pengurus/pengelola/anggota dilakukan?
9. Bagaimana peran pengelola dalam penyelenggaraan program pemberdayaan masyarakat petani?
10. Apakah Gapoktan kecamatan Moyudan selama ini bekerjasama dengan pihak-pihak lain?

III. Sarana dan Prasarana
1. Dana
a. Berapa besar dana yang diperlukan untuk pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat petani ?
b. Dari manakah sumber dana tersebut?
c. Bagaimanakah pengelolaan dana tersebut?
2. Tempat peralatan
a. Siapa pemilik (status) tempat didirikannya bangunan Gapoktan kecamatan Moyudan?
b. Apa saja fasilitas yang ada di Gapoktan kecamatan Moyudan?
c. Darimana asal fasilitas tersebut?

IV. Anggota Gapoktan kecamatan Moyudan
1. Berapa jumlah anggota Gapoktan kecamatan Moyudan?
2. Bagaimana cara rekruitmen anggota Gapoktan kecamatan Moyudan?
3. Bagaimana motivasi anggota Gapoktan kecamatan Moyudan dalam mengikuti program pemberdayaan?
4. Bagaimana bentuk motivasi anggota Gapoktan kecamatan Moyudan agar mau terlibat secara penuh dalam setiap kegiatan?
5. Apakah program-program yang telah dirancang oleh anggota Gapoktan kecamatan Moyudan telah mampu menjawab kebutuhan petani?
6. Bagaimana pengelolaan kegiatan pemberdayaan anggota Gapoktan kecamatan Moyudan?
7. Bagaimana hasil yang dicapai sejauh ini dari Gapoktan kecamatan Moyudan?
8. Apa saja faktor pendukung dalam setiap pelaksanaan kegiatan Gapoktan kecamatan Moyudan?
9. Apa saja faktor dan penghambat dalam setiap pelaksanaan kegiatan Gapoktan kecamatan Moyudan?
10. Harapan apa yang ingin dicapai anggota Gapoktan kecamatan Moyudan dalam setiap pelaksanaan pelaksanaan kegiatan?

DAFTAR PUSTAKA

Lexi, J Moleong. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT. Persada Rosa Karya
Sugiyono.(2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Usman, Sunyoto.(2008). Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sulistiyani, Ambar Teguh. (2004). Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan.Yogyakarta : Gava Media


ANALISIS FENOMENA dalam BIDANG PENDIDIKAN

TUGAS ANALISIS FENOMENA dalam BIDANG PENDIDIKAN
Tema : Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur
Dosen Pengampu: Sumarno, M.A.Ph.D









Oleh:
NADRA YUNIA AYUNINGTYAS
10102241026/2A








PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011

Terdapat banyak sekali fenomena-fenomena yang bermunculan di sekitar kita. Salah satu fenomena yang muncul di tengah-tengah kita baru-baru ini adalah tentang tingginya angka pengangguran lulusan Perguruan Tinggi. Di sekitar tempat tinggal saya saja terdapat beberapa lulusan Perguruan Tinggi yang bisa dikatakan menganggur. Belum ada pekerjaan yang pasti bagi mereka.
Sementara itu, menurut hasil riset yang saya baca dari salah satu artikel dengan alamat web : http.//suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/02/15/78005/30-Persen-Lulusan-Perguruan-Tinggi-Menganggur (artikel ada dihalaman selanjutnya) mengatakan bahwa 30 persen lulusan Perguruan Tinggi menganggur selama periode 2009-2010. Diperkirakan ada sekitar 600 ribu lulusan, dan angka tersebut berpotensi mengalami kenaikan setiap tahunnya. Apabila kenaikan terjadi secara terus-menerus tentu saja akan mengakibatkan Indonesia dipenuhi oleh pengangguran sarjana.
 Ironi memang, karena sejatinya Perguruan Tinggi merupakan suatu tingkatan yang tertinggi dalam bidang pendidikan, yang notabene kecerdasan serta pengetahuannya sudah tidak diragukan lagi. Jika dibandingkan dengan lulusan tingkat pendidikan yang ada dibawahnya (SD, SMP, SMA). Namun dari hasil riset Kemendiknas, 30 persen lulusan Perguruan Tinggi itu menganggur bukan dikarenakan kurangnya kecerdasan serta pengetahuan mereka. Semua itu terjadi akibat adanya kesenjangan dan atau ketidak cocokan antara kualifikasi lulusan dengan lowongan pekerjaan yang tersedia. 
Memang ketimpangan tersebut tidak mudah diatasi karena sejatinya sebuah instansi tidak mungkin menerima seorang lulusan yang akan dipekerjakan bukan pada bidang keahliannya. Seperti contoh : perusahaan konveksi tidak akan menerima lulusan dari jurusan Pendidikan Biologi karena tidak ada sinkronisasi diantara keduanya.
Selain sebab diatas, saya berpendapat bahwa lulusan Perguruan Tinggi telah dibentuk sedemikian rupa agar mereka menjadi intelektual yang handal nantinya tanpa membekalinya keterampilan kerja. Mereka hanya diprioritaskan untuk bekerja di kantoran. Padahal antara lowongan pekerjaan denga yang memutuhkan pekerjaan lebih banyak yang membutuhkan pekerjaan.
Selanjutnya adalah masalah pengalaman bekerja. Banyak dari lulusan Perguruan tinggi tidak mempunyai pengalaman bekerja sma sekali. Ketiadaan pengalaman kerja tersebut karena mereka tidak dapat memanfaatkanwaktu serta peluang semaksimal mungkin. Waktunya terkadang hanya digunakan untuk kuliah dan selebihnya untuk bermain.
Menjawab tentang berbagai pertanyaan diatas, sebenarnya pengangguran dapal diatasi dengan beberapa solusi, di antaranya :
1. Dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang bursa kerja dan atau lowongan pekerjaan.
2. Menambah keterampilan/life skill guna menunjang pengetahuan yang telah didapat dari Perguruan Tinggi. Apabila keterampilan yang didapat di Perguruan Tinggi dirasa masih kurang, alangkah baiknya jika kita menambahnya dengan mengikuti kursus keterampilan di luar.
3. Selanjutnya adalah pintar-pintarlah memanfaatkan waktu serta peluang sebaik mungkin dengan ikut magang kerja sambil kuliah. Selain mendapatkan upah, magang kerja juga memiliki manfaat lain dari menambah pengetahuan sapai pengalaman dalam dunia kerja. Dengan pengalaman yang sudah diperolehnya tersebut, niscaya tak akan sulit mendapatkan pekerjaan di kemudian hari.
4. Yang terakhir adalah dengan menciptakan lapangan kerja sendiri tanpa harus mencari pekerjaan. Sebagai lulusan Perguruan Tinggi sudahlah pasti mereka dibekali dengan ilmu kewirausahaan yang dapat mereka terapkan didalam kehidupannya.
Semoga kedepannya lulusan Perguruan Tinggi tidak menganggur lagi karena sebab-sebab yang telah kita bahas tadi diatas. Saya sebagai mahasiswa tidak akan pesimis dengan suatu pertanyaan yang bahkan kekhawatiran yang mungkin mencuat dalam setiap pikiran para mahasiswa. Apakah setelah lulus nanti kita akan bekerja atau akan menambah angka pengangguran yang bertitle sarjana? pertanyaan serta kekhawatiran tersebut akan saya musnahkan dengan rasa optimis agar dapat mencari celah-celah kecil yang menuntun sampai pada pekerjaan yang diinginkan.















Artikel Acuan :

15 Februari 2011 | 16:48 wib
30 Persen Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur
Jakarta, CyberNews. Sebanyak 30 persen lulusan perguruan tinggi tidak terserap di dunia kerja setiap tahunnya. Kementerian Pendidikan Nasional menduga, hal itu disebabkan karena ketidakcocokan antara kulifikasi lulusan dengan lowongan perkerjaan yang tersedia.
“Pada periode 2009-2010 lalu, jumlah lulusan perguruan tinggi swasta maupun negeri yang masih menganggur sekitar 600 ribu orang. Jumlah tersebut berpotensi naik setiap tahun. Sebab, sekitar 30 persen dari 200 ribu mahasiswa yang diwisuda, tidak terserap di dunia kerja,” kata Wakil Mendiknas, Fasli Jalal, Selasa (15/2).
Menurutnya, persoalan tidak sebatas pada kualitas lulusan. Sebab, munculnya pengangguran terdidik terebut tidak semata disebabkan karena mereka tidak mampu secara keilmuan. “Faktor lainnya adalah kualifikasi lulusan. Kualifikasi lulusan perguruan tinggi kesulitan mencari lowongan kerja yang sesuai. Hasil pemetaan dari Kemendiknas menyebutkan, memang terdapat beberapa jurusan yang sudah bisa dikatakan jenuh,” ujarnya.
Dia berharap, lingkungan industri bisa terus berkembang. Sehingga, bisa menambah banyak kualifikasi lowongan pekerjaan yang tersedia. Dikatakan, hingga sekarang pihaknya masih kesulitan untuk mencari tahu struktur kebutuhan yang ada di dunia kerja. “Struktur tersebut bisa digunakan sebagai acuan perkembangan kurikulum yang ada di perguruan tinggi,” tandasnya.
Terpisah, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan, perguruan tinggi harus bertanggung jawab dengan munculnya pengangguran terdidik. “Hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia industri harus lebih kuat. Perguruan tinggi harus membuat career development,” katanya saat mengunjungi bursa kerja di Universitas Indonesia, pekan lalu.
Sumber :http.//suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/02/15/78005/30-Persen-Lulusan-Perguruan-Tinggi-Menganggur



ARKIB : 27/07/2008
Pelajar semakin berani merokok di sekolah
KUALA TERENGGANU 26 Julai - Tabiat merokok di kalangan pelajar di negara ini semakin sukar dikawal apabila terdapat sebahagian daripada mereka tanpa segan-silu melakukan perbuatan itu di kawasan sekolah.Timbalan Menteri Pelajaran, Datuk Razali Ismail yang bimbang dengan perkembangan itu berkata, ramai pelajar lelaki didapati merokok termasuk di kawasan sekolah dan perkara ini perlu dibendung sebelum menjadi lebih parah.
Justeru, beliau mengarahkan semua Pegawai Pendidikan Daerah (PPD) supaya memastikan sekolah di kawasan masing-masing bebas daripada gejala merokok.
''Masalah ini boleh diatasi jika semua pihak termasuk ibu-bapa memainkan peranan masing-masing dan bekerjasama dengan pihak sekolah dalam memastikan anak tidak merokok.
''Tabiat merokok boleh menjejaskan kesihatan dan sebab itu kementerian memandang serius masalah ini," katanya.
Beliau berkata demikian ketika ditemui selepas merasmikan Karnival Jom Tangani Stres & Tanpa Kuman Makanan Selamat Negeri Terengganu 2008 di Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Bandar, di sini hari ini.
Menurutnya, Kementerian Pelajaran memandang serius masalah pelajar sekolah merokok dan dalam usaha membasmi tabiat buruk itu, pelbagai kempen anti merokok diadakan.
Terdahulu dalam ucapannya, Razali yang juga Ahli Parlimen Kuala Terengganu memberitahu, bagi mempromosikan Kempen Menangani Stres & Tanpa Kuman Makanan Selamat, pelbagai pendekatan digunakan termasuk melalui saluran media.
Menurutnya, untuk membolehkan masyarakat menangani tekanan, mereka memerlukan kemahiran dan keyakinan diri.
''Kita percaya aspek pendidikan kesihatan termasuk tekanan dan cara menanganinya mesti diterapkan pada peringkat awal atau semasa zaman persekolahan lagi," ujarnya.
sumber:http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2008&dt=0727&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_13.htm


Non-formal Education

Name:Nadra Yunia Ayuningtyas
NIM  :1010241026
Class : IA

Non-formal Education

Outside of school education is education designed to residents learn to have the type of skills and or knowledge and experience that was made outside the formal education (schooling).
Characteristics of Non-formal Education:
-Out of School Education as Subtitute of school education. This means that special education school to replace the path of education that school because some people can not follow the path of education in schooling (formal). Examples: Pursue Package A, B and C
-Out of School Education as school education Supplement. This means that education outside the school implemented to increase knowledge, skills acquired from school education or less. For example: private, tutoring, training
-Out of School Education as a complement of school education. This means that education outside the school implemented to complement the knowledge and skills that are lacking or not available in school education. For example: Course, try out, training etc.


VERB SUBJEC
Designed:design designed designed designing
Learn: learn learnt,learned learnt,learned
Have: have(has) had had
Made: make made made
Means:mean meant meant Outside of school education
Out of School Education
Out of School Education
Out of School Education

In the Law No. 20 of 2003 on National Education System, candidly and explicitly stated that non-formal education will continue to be cultivated in order to realize a community-based education, and is responsible governments participate in the ongoing non-formal education as an effort to complete the 9-year compulsory education .
Within the framework of the elaboration and distribution of Special Education, gradually will be increased coverage of services and the role of society and government to explore and exploit the full potential of community to support of Special Education. Plan a good strategy ditngkat provincial or district of the city namely:
a. Expansion of distribution and coverage of early childhood education
b. Improved equity, coverage and service quality equivalent A chase pack,and chasing pack junior high B
c. lliteracy eradication through functional literacy programs
d. The expansion, equity, and improving the quality of women's education, Parent Education Program (Parenting)
e. The expansion, equity, and quality improvement through a program of continuing education courses, study groups of business, internships, scholarships / courses;
Out of School Education is the responsibility of society and government in line with Community-Based Education. Operation of Non-Formal Education is empowering the community as implementing, and controlling


SUBJEC
In the Law No. 20 of 2003 on National Education System
Within the framework of the elaboration and distribution of Special Education
Out of School Education

VERB
Expansion expand, expanded, expanded, expanding
Improved improve, improved, improved, improving

Komunikasi nonverbal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi "tidak menggunakan kata" dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.
Jenis-jenis komunikasi nonverbal
Komunikasi objek
Komunikasi objek yang paling umum adalah penggunaan pakaian. Orang sering dinilai dari jenis pakaian yang digunakannya, walaupun ini dianggap termasuk salah satu bentuk stereotipe. Misalnya orang sering lebih menyukai orang lain yang cara berpakaiannya menarik. Selain itu, dalam wawancara pekerjaan seseorang yang berpakaian cenderung lebih mudah mendapat pekerjaan daripada yang tidak. Contoh lain dari penggunaan komunikasi objek adalah seragam.
Sentuhan
Haptik adalah bidang yang mempelajari sentuhan sebagai komunikasi nonverbal. Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. Masing-masing bentuk komunikasi ini menyampaikan pesan tentang tujuan atau perasaan dari sang penyentuh. Sentuhan juga dapat menyebabkan suatu perasaan pada sang penerima sentuhan, baik positif ataupun negatif.
Kronemik
Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu (punctuality).[1]
Gerakan tubuh
Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan, misalnya memukul meja untuk menunjukkan kemarahan; untuk mengatur atau menngendalikan jalannya percakapan; atau untuk melepaskan ketegangan. 
Proxemik
Proxemik atau bahasa ruang, yaitu jarak yang Anda gunakan ketika berkomunikasi dengan orang lain, termasuk juga tempat atau lokasi posisi Anda berada. Pengaturan jarak menentukan seberapa jauh atau seberapa dekat tingkat keakraban Anda dengan orang lain, menunjukkan seberapa besar penghargaan, suka atau tidak suka dan perhatian Anda terhadap orang lain, selain itu juga menunjukkan simbol sosial. Dalam ruang personal, dapat dibedakan menjadi 4 ruang interpersonal :
Jarak intim
Jarak dari mulai bersentuhan sampai jarak satu setengah kaki. Biasanya jarak ini untuk bercinta, melindungi, dan menyenangkan.
Jarak personal
Jarak yang menunjukkan perasaan masing - masing pihak yang berkomunikasi dan juga menunjukkan keakraban dalam suatu hubungan, jarak ini berkisar antara satu setengah kaki sampai empat kaki.
Jarak sosial
Dalam jarak ini pembicara menyadari betul kehadiran orang lain, karena itu dalam jarak ini pembicara berusaha tidak mengganggu dan menekan orang lain, keberadaannya terlihat dari pengaturan jarak antara empat kaki hingga dua belas kaki.
Jarak publik
Jarak publik yakni berkisar antara dua belas kaki sampai tak terhingga.[ 
Vokalik
Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Ilmu yang mempelajari hal ini disebut paralinguistik. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lain-lain. Selain itu, penggunaan suara-suara pengisi seperti "mm", "e", "o", "um", saat berbicara juga tergolong unsur vokalik, dan dalam komunikasi yang baik hal-hal seperti ini harus dihindari.[5]
Lingkungan
Lingkungan juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Diantaranya adalah penggunaan ruang, jarak, temperatur, penerangan, dan warna.[6]
Variasi budaya dalam komunikasi nonverbal
Budaya asal seseorang amat menentukan bagaimana orang tersebut berkomunikasi secara nonverbal. Perbedaan ini dapat meliputi perbedaan budaya Barat-Timur, budaya konteks tinggi dan konteks rendah, bahasa, dsb. Contohnya, orang dari budaya Oriental cenderung menghindari kontak mata langsung, sedangkan orang Timur Tengah, India dan Amerika Serikat biasanya menganggap kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya. 












KOMUNIKASI NONVERBAL
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.
Klasifikasi pesan nonverbal.
Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokkan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut:
Pesan kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.
Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut: a. Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan taksenang, yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk; b. Wajah mengkomunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan; c. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi situasi; d. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri; dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.
Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.
Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah: a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif; b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah; c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.
Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.
Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara berbeda. Pesan ini oleh Dedy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa.
Pesan sentuhan dan bau-bauan. 
Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian.
Bau-bauan, terutama yang menyenangkan (wewangian) telah berabad-abad digunakan orang, juga untuk menyampaikan pesan –menandai wilayah mereka, mengidentifikasikan keadaan emosional, pencitraan, dan menarik lawan jenis.
Fungsi pesan nonverbal.
Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:
1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.
2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ’memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata ”Hebat, kau memang hebat.”
4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.
Sementara itu, Dale G. Leathers (1976) dalam Nonverbal Communication Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan. Yaitu:
a. Factor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatamuka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan nonverbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banya ’membaca’ pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk nonverbal.
b. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal. 
c. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.
d. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.
e. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi, ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal.
f. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).

TEORI KOMUNIKASI

Nama : Nadra Yunia Ayuningtyas
NIM  : 10102241026
Kelas : IA 

PENGERTIAN KOMUNIKASI

Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya. 

Beberapa definisi komunikasi adalah: 

1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid). 

2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G). 

3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981). 

4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W) 

5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi)

6.Menurut Hovland,JanisdanKelley
Hovland, Janis dan Kelley seperti yang di kemukakan oleh Forsdale (1981) adalah ahli Sosiologi Amerika, mengatakan bahwa, “communication is the process by which an individual transmits stimuly (usually verbal) to modify the behavior of other individuals”. Dengan kata kata lain komunikasi asalah proses individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal untuk merubah tingkah laku orang lain. Pada definisi ini, mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses, bukan sebagai suatu hal.

7. Menurut Forsdale
Menurut louis Forsdale(1981), ahli komunikasi dan pendidikan, “communication is the process by which a system is established, maintained, and altered by means of shared signal that operate acording to rules”. Komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat dipelihara, didirikan dan diubah. Pada definisi ini komunikasi juga di pandang sebagai suatu proses. Kata signal maksudnya adalah signal yang berupa verbal dan non verbal yang mempunyai aturan tertentu. Dengan adanya aturan ini menjadikan orang yang menerima signal yang telah mengetahui aturannya akan dapat memahami maksud dari signal yang diterimanya.
Selanjutnya Forsdale mengatakan, bahwa pemberian signal dalam komunikasi dapat dilakukan dengan maksud tertentu atau dengan disadari dan dapat juga terjadi tanpa disadari. Kalau kita bandingkan dengan definisi pertama, definisi forsdale ini kelihatannya lebih umum dari definisi pertamayang mengatakan komunikasi hanya hanya terjadi dengan penuh kesadaran sedangkan pada forsdale dapat dalam kondisi sadar maupun tidak sadar. Begitu puladalam ruang lingkupnya, kalau definisi pertama lebih menekankan komunikasi hanya diantara manusia, tetapibpada definisi kedua komunikasi baik diantara manusia maupun komunikasi dalam sistem kehidupan binatang.

8.Menurut BrentD.Ruben
Brent D. Ruben(1988) memberikan definisi mengenai komunikasi manusia yang lebih komprehensif sebagai berikut : komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain.
Pada definisi ini pun, komunikasi juga dikatakan sebagai suatu proses yaitu suatu aktivitas yang mempunyai beberapa tahap yang terpisah satu sama lain tetapi memili hubungan atau berhubunga satu sama lain. Misal, jika kita mau pidato di depan umum sebelum melakukan itu semua, kita telah melakukan serentetan sub aktivitas seperti perencanaan, menentukan tema pidato, mengumpulkan bahan, melatih diri, baru kemudian tampil di depan umum.
Bila diperhatikan lebih lanjut dari definisi ruben ini, kelihatan bahwa ruben memakai istilah yang berbeda dengan dua definisi sebelumnya yang memakai istilah stimulus dan signal. Ruben memakai istilah sebagai kumpulan data, pesan, susunan isyarat dalam cara tertentu yang mempunyai arti atau berguna bagi sistem tertentu.

9. Menurut WilliamJ.Seller
Seller(1988) memberikan definisi komunikasi yang lebih bersifat universal. Dia mengatakan komunikasi adalah proses dengan mana simbol verbal dan nonverbal di kirimkan, diterima dan diberi arti.
Jadi dari keempat definisi diatas jelas, bahwa pada hakikatnya komunikasi adalah merupakan suatu proses tetapi proses mengenai apa belumlah ada kesepakatan.ada yang mengatakan proses pengiriman stimulus, ada yang mengatakan pemberian signal,dan ada pula yang mengatakan pengiriman informasidan simbol.

10. Everett M. Rogers, Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 20, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.) (Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar , 2005, hal 62, Dedy Mulyana)

11. Rogers & D. Lawrence Kincaid, 1981, Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 20, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.)
12. Shannon & Weaver, 1949, Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 20, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.)
13. David K. Berlo, 1965 Ilmu pengantar komunikasi Komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi setiap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam memciptakan keseimbangan dengan masyarakat. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 3, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.)
14. Harorl D. Lasswell, 1960. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?) (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 19, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.) (Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar , 2005, hal 69, Dedy Mulyana)
15. Steven, Komunikasi Juga dapat terjadi kapan saja suatu organisme memberi reaksi terhadap suatu objek atau stimuli. Apakah itu berasal dari seseorang atau lingkungan sekitarnya. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 19, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.)
16. Raymond S. Ross, Komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator. (Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar , 2005, hal 62, Dedy Mulyana)
17.  Menurut Prof. Dr. Alo Liliweri, Komunikasi adalah pengalihan suatu pesan dari satu sumber kepada penerima agar dapat dipahami. [Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan, 2003, hal 4
18. Bernard Berelson & Gary A. Steiner, [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 68] Komunikasi : Transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol – kata-kata, gambar, figur, grafik dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang disebut dengan komunikasi.
19. Menurut John R. Wenburg dan William W Wilmot, [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 68] Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna.
20.  Menurut Carl I.Hovland, [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 62] komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan untuk mengubah perilaku orang lain
21. Menurut Harorl D. Lasswell, 1960. [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 62] Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?)
22. Judy C pearson & Paul E melson, [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 69] Komunikasi adalah Proses memahami dan berbagi makna
23. Stewart L. Tubbs & Sylvia Moss, [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 69] Komunikasi adalah proses makna diantara dua orang atau lebih.
24. Menurut William I. Gordon, [dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2005, hal 69] Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.
25. Menurut M. Djenamar. SH, [Komunikasi dan pidato, 1986, hal 2] Komunikasi adalah seni untuk menyampaikan informasi, ide-ide, seseorang kepada orang lain.
26. Menurut William Albig, [komunikasi, persuasi, & rektorika, 1983, hal 13,] komunikasi adalah proses pengoperan lambang yang berarti diantara individu-individu.
27. Menurut Prof. Dr. Alo Liliweri, [Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan, 2003, hal 4] Komunikasi adalah pengalihan suatu pesan dari satu sumber kepada penerima agar dapat dipahami.
28. Menurut Anwar arifin (1988:17), komunikasi merupakan suatu konsep yang multi makna. Makna komunikasi dapat dibedakan berdasarkan Komunikasi sebagai proses sosial Komunikasi pada makna ini ada dalam konteks ilmu sosial. Dimana para ahli ilmu sosial melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan komunikasi yang secara umum menfokuskan pada kegiatan manusia dan kaitan pesan dengan perilaku.
29. Markman, 1981 : Murphy & Mendelson. 1973 : Komunikasi merupakan suatu komunikaso untuk membangun & mempertahankan hubungan interpersonal.
30. Aristoteles (ruben, 2002:21) komunikasi adalah alat dimana warga masyarakat dapatberpartisipasi dalam demokrasi
31. Drs. Redi Panuju, Msi (2001:1) Komunikasi merupakan sistem aliran yang menghubungkan dan kinerja antar bagian dalam organisasi sehingga menghasilkan suatu sinergi.
32. Hoben , Simbol/verbal/ujaran, komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal.
33. Anderson, Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku.
34. Barnlund, 1964, Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
35. Menurut lexicographer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya.
36. Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
37. Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Hovland, Janis & Kelley:1953
38. Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih. Gode, 1959
39. Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya dalam kehidupan. Ruesch, 1957
40. Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya. Weaver, 1949
41. Achmad S. Ruky, Sukses sebagai manajer Profesional tanpa gelar MM atau MBA - Komunikasi adalah proses pemindahan dan pertukaran pesan yang dapat berbentuk fakta, gagasan, perasaan, data atau informasi dari seseorang kpd org lain, utk mempengaruhi dan/atau mengubah informasi dan tingkah laku orang yang menerima pesan.
42. Atep Aditya Barata, dasar-dasar pelayanan prima adalah poses pengiriman dan penerimaan pesan atau berita (informasi) antara 2 orang atau lebih dengan cara yang efektif, sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
43. Drs. Agus M. Hardjana, M.Sc., ed komunikasi interpersonal dan intrapersonal Komunikasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan dimana seseorang menyampaikan pesan dari media tertentu kepada orang lain dan sesudah menerima pesan serta memahami sejauh kemampuan, penerimaan pesan menyampaikan tanggapan melalui media tertyentu pula kepada orang yang menyampaukan pesan itu kepadanya.
44. Sindu mulianto, Panduan Lengkap supervisi Perspektif Syariah Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh pengirim kepada penerima pesan melalui cara dan media tertentu.
45. Wuryanano, Super Mind for Successful Life, Komunikasi adalah melibatkan keseluruhan pribadi anda, cara berbicara, sikap anda, tingkah laku anda, dan segala sesuatu yag terpancar dari pribadi anda.